Showing posts with label 8minggungeblog. Show all posts
Showing posts with label 8minggungeblog. Show all posts

April 30, 2013

9 Warna : Hitam Putih MEJIKUHIBINIU



MEJIKUHIBINIU adalah singkatan dari kata Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Apabila ditambah Hitam dan Putih, jadilah 9 warna yang dikenal hingga saat ini. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.

Warna memang tak lepas dari keseharian kita. Saat membuka mata setelah tertidur, kita akan disuguhi dengan warna. Warna tembok kamar, plafon, lemari, dan televisi mungkin warna awal yang ditangkap mata di awal hari. Tanpa warna, indahnya hidup dengan fungsi melihat oleh mata tak akan lengkap. Bayangkan saja bila kita menderita buta warna, tidak dapat membedakan warna. Mungkin akan sulit membedakan tim sepakbola yang sedang berlaga antara MU (Merah) dengan Chelsea (Biru) contohnya. Ataupun tak dapat membedakan warna lampu lalu lintas Merah dan Hijau, tinggal lihat lampu atas (Merah) atau lampu bawah (Hijau) saja dan akan kesulitan jika posisinya ditukar. Mengapa pula ada tes kesehatan berupa tes buta warna jika mendaftar sekolah atau pekerjaan? Tentara mungkin akan sulit membedakan antara rumput dan ranjau jika buta warna, dokter bedah kesulitan melihat urat saraf yang berwarna beda. Dan warna selain indah, memudahkan kehidupan manusia.

April 18, 2013

9 Bulan Mencari Badik



Sampai umur kepala tiga ini, saya belum sekalipun memiliki badik, senjata khas Bugis-Makassar. Padahal darah Bugis mengalir deras dalam tubuh saya. Ayah pun setahu saya tidak mempunyai  badik untuk diwariskan kepada saya. Kalau begitu, saya bukan Bugis-Makassar asli? Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog, minggu kedua.

Badik

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda, dengan panjang mencapai sekitar setengah meter. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah).

Menurut pandangan orang Bugis Makassar, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti (gaib). Kekuatan ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan dengan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran ataupun kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan bagi yang menyimpannya.

Sejak ratusan tahun silam, badik dipergunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu tetapi juga sebagai identitas diri dari suatu kelompok etnis atau kebudayaan. Badik ini tidak hanya terkenal di daerah Makassar saja, tetapi juga terdapat di daerah Bugis dan Mandar dengan nama dan bentuk berbeda.
Secara umum badik terdiri atas tiga bagian, yakni hulu (gagang) dan bilah (besi), serta sebagai pelengkap adalah warangka atau sarung badik. Disamping itu, terdapat pula pamor yang dipercaya dapat memengaruhi kehidupan pemiliknya. 

Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini disebut Badik Sari. Badik Sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa’ kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Lain Makassar lain pula Bugis, di daerah ini badik disebut dengan kawali, seperti Kawali Raja (Bone) dan Kawali Rangkong (Luwu). 

[wikipedia]

Prinsip Badik

April 13, 2013

9 Kluster, Membangun Peradaban


Anak-anak itu begitu riangnya bermain ayunan di taman kompleks, dan mereka masuk ke rumah masing-masing saat matahari terbenam. Rumah adalah sebuah tempat yang dituju untuk pulang. Rumah apapun dan bagaimanapun sejatinya menjadi tempat pulang yang selalu dirindukan. Postingan ini diikutsertakan dalam Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Siapa sangka daerah Panaikang dan Tello --yang sekarang tiap pagi dan sore hari macetnya minta ampun-- dulunya adalah wilayah Kabupaten Maros. Hari ini entah sejak berapa puluh tahun lalu telah diakuisisi oleh Kota Makassar menjadi wilayah kedaulatannya dan menjadi pusat kota baru. Pusat pendidikan, pusat perbelanjaan, hingga Taman Makam Pahlawan berada di wilayah ini. Sedikit bergeser ke timur, kita akan temukan pusat peradaban baru di daerah pemukiman Tamalanrea dan Daya. Makassar berkembang sangat pesat seiring berlipatnya jumlah penduduk, kakek nenek kita mungkin tak akan menyangka Makassar akan seberkembang ini, sepadat ini, semacet ini. Tahun 90-an daerah ini masih sepi, masih terngiang celotehan orang saat menyebut daerah ini, "Deh, jauhnya rumahnya, di Daya".
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...