December 21, 2015

9 filosofi sepakbola Louis van Gaal



Sejak menangani Manchester United pada musim panas 2014, kata filosofi merupakan salah satu kata yang sering diucapkan Louis van Gaal (LVG). KBBI menyamaartikan filosofi dengan filsafat. Wikipedia mendefenisikan filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Jadi filosofi sepakbola yang dimaksud LVG merupakan segala studi tentang seluruh fenomena dan pemikirannya secara kritis mengenai sepakbola dan dijabarkannya dalam konsep mendasar. Maka wajarlah kalau kita melihat LVG bersama buku catatannya, mungkin kecintaannya pada buku catatan ini melebihi perhatian pada anak dan istrinya. Bukan LVG namanya kalau tidak mencatat, berusaha menjabarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Maklum, beliau sudah tua, sudah pikun untuk mengingat semua fenomena yang terjadi. Mungkin hanya LVG seorang yang menggunakan buku catatan dalam setiap pertandingan.

Itulah sebabnya pelatih asal Belanda kelahiran 8 Agustus 1951 ini senang sekali berbicara tentang “filosofi”-nya. Menurutnya filosofi sepakbola adalah hal terpenting, dan ketika tim tetap dengan filosofi yang dianutnya, kemenangan adalah hasilnya. Itu adalah pernyataan khas LVG. Jika menang, ia mengatakan itu karena filosofi. Sementara jika kalah, ia akan mengatakan itu karena tim tidak menerapkan filosofinya dengan cukup baik.

Tapi lebih dari setahun setelah kedatangannya di Old Trafford, banyak orang yang tidak benar-benar paham sepenuhnya apa filosofi LVG tersebut. Apalagi setelah enam pertandingan terakhir MU yang berakhir tanpa kemenangan, bahkan tiga pertandingan terakhir menuai kekalahan menyakitkan (kalah dari Wolfsburg dan tersingkir dari Liga Champions, kalah dari tim promosi sekaligus penghuni papan bawah Bournemouth dan kalah di Old Trafford dari Norwich City penghuni papan bawah klasemen liga Inggris). Banyak orang mulai tidak yakin dengan filosofi LVG, sebagian menilai permainan MU membosankan, tidak spesial. Terakhir, muncul statemen kalau LVG bakal dipecat bila tidak mampu menang di dua laga kedepan.

Beberapa orang tidak tahu apa sebenarnya filosofi LVG, bahkan beberapa lainnya tidak memiliki petunjuk atau clue sama sekali. Filosofi yah filosofi, seperti visi yang sangat sulit membumi. Melihat karirnya sejauh ini, menarik sekali tentunya kita memahami apa sesungguhnya filosofi Van Gaal tersebut. Di Ajax Amsterdam, FC Barcelona, FC Bayern Munich, dan tim nasional Belanda, ia selalu bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip filosofi yang sama. Tak terkecuali di Manchester United.Berikut ini (mungkin) 9 filosofi sepakbola LVG



1. Sistem dan organisasi adalah nomor satu, bukan sekedar formasi
Pertandingan itu dipersiapkan sejak sebelum laga dimulai. Kata “reaktif” tidak ada dalam pikiran LVG. LVG tidak akan mengubah taktik bagaimanapun kondisinya, mau dalam posisi unggul ataupun tertinggal dalam pertandingan. Tidak ada cerita LVG mengubah formasi ditengah laga hanya untuk mengejar ketertinggalan atau mempertahankan keunggulan. Menurut LVG lawanlah yang akan bereaksi terhadap tim dan taktiknya, namun ia akan tetap sama. Mungkin LVG sungguh sabar dan luar biasa tabah jika timnya sedang tertinggal, namun tidak bagi fans bukan?

Bagi LVG, setiap formasi tidak hanya bergantung kepada pemikiran pelatih, tapi juga deretan pemain yang tersedia dalam tim. Tidak heran, formasi yang diterapkan Van Gaal berbeda di setiap klub yang ditanganinya, bergantung pada potensi pemain masing-masing.

2. Pemain yang memiliki profil di setiap posisi
LVG mengembangkan beberapa “profil” untuk setiap posisi dalam sistemnya. Profil ini menceritakan apa yang dia inginkan dari pemain di posisi tertentu. Bek misalnya, harus juga memiliki kemampuan operan yang baik (ball-playing defender) dan bisa mengatur serangan. Sementara striker juga harus mampu menahan bola, melakukan track-back, dan mengoper ke gelandang serang atau sayap. Akibatnya, LVG akan banyak memainkan pemain di luar posisi alaminya, salah satunya disebabkan badai cedera pemain. LVG suka pemain multi-fungsi, sesuai dengan kesukaannya pada saat fleksibilitas taktis (bedakan taktis dengan formasi), dan dia bukan penggemar pemain satu-dimensi. Makanya LVG menjual Chicarito dan Januzaj, bukan karena prestasinya namun karena hanya mampu bermain di satu posisi.

3. Pemain muda adalah masa depan
LVG tidak selalu menginginkan pemain bintang, dia lebih suka menempatkan banyak pemain muda dan lulusan akademi. Anak-anak muda selalu ingin belajar, bertentangan dengan pemain bintang. Mereka akan dengan senang hati mendengarkan pelajaran tentang “profil” dan “tanggung jawab”. LVG mencapai hal yang luar biasa dengan anak muda. Ketika ia memenangkan Liga Champions bersama Ajax pada tahun 1995, ia melakukannya dengan skuat yang sebagian besar terdiri dari pemain akademi seperti Clarence Seedorf, Edgar Davids, Frank de Boer, dan Patrick Kluivert.

Bagaimana dengan di MU? Ingat ketika LVG membeli dan memainkan Martial, Blackett, McNair, Wilson, dan pemain muda lainnya? Padahal di mata fans mereka belum matang dan kurang layak ditempatkan di tim utama.

4.Sepakbola atraktif
Menurut LVG, kemenangan tidak akan berarti apa-apa jika di atas lapangan tidak enak dipandang. Berkali-kali ia telah menegaskan bahwa ia ingin timnya bermain atraktif, yaitu sepakbola menyerang. LVG melihatnya sebagai kewajiban moral untuk menghibur penonton. Itu sebabnya timnya selalu mencoba menguasai bola, sementara secara bersamaan berusaha untuk mencetak banyak gol. LVG sangat mendukung permainan menyerang dan menjunjung tinggi prinsip total football yang diperagakan Ajax dan timnas Belanda di era 1970-an lalu. Dia kerap merujuk Rinus Michels, sang pelopor Total Football, sebagai panutan dan referensinya dalam mengarsiteki tim.

Mendominasi permainan dengan menguasai bola adalah filosofi LVG. Dalam setiap pertandingan LVG membidik angka possession hingga 52%. Meskipun penguasaan bola tidak selalu menjamin kemenangan, tapi pola permainan ini memungkinkan para pemainnya menghemat energi karena memaksa pemain lawan terus berlari mengejar bola.

5. Tiga warna pemain
Biru: intelektual dan selalu mencari struktur dan keamanan di lapangan.
Hijau: sangat emosional, secara emosional sensitif atau membawa atmosfer berbeda dalam skuad.
Merah: kreatif, penuh tenaga, ingin bekerja, dan selalu fokus pada masa depan

LVG bisa bekerja dengan masing-masing kategori pemain. Ketika mencari atau mempelajari pemain, LVG mencari berdasarkan TIPS: teknik, imajinasi, kepribadian (personality), dan kecepatan (speed).

6.Membangun kesadaran individu pemain.
Untuk mencipta tim pemenang, LVG harus memastikan setiap pemain dilatih dengan cara yang sempurna. LVG menghabiskan lebih banyak waktu pada individu daripada perbaikan tim. Sebab semua perbaikan individu akan menentukan tingkat keberhasilan tim.

7. Mengutamakan kolektivitas
Setiap pemain perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Mempersiapkan pembentukan taktik adalah penting. Setiap pemain harus tahu di mana dia harus berada. Itulah sebabnya perlu ada saling pengertian karena perlu disiplin mutlak. Setiap individu perlu tahu siapa yang harus dia kalahkan dan berada disana untuk mendukung rekan setimnya

8. Suka gelandang fleksibel dan gelandang bertahan
Tergantung kualitas para pemain dan pihak lawan. LVG lebih memilih sistem dengan formasi 1-4-3-3 dengan Nomor 10 (jenderal lapangan) atau No.6 (gelandang bertahan). Seorang gelandang bertahan atau pemain No.10 berada di belakang striker. Menurut LVG sistem tersebutlah yang paling mudah untuk mendominasi permainan, sebab segitiga (posisi antar pemain) di lapangan berlangsung di semua tempat dan setiap pemain setidaknya mempunyai dua pilihan mengumpan. 

9. Skenario lapangan
Di lapangan dibagi 4 Macam skenario yaitu ketika tim mendapat bola (organisasi serangan), transisi dari bertahan menjadi menyerang (transisi serangan), ketika lawan dalam menguasai bola (organisasi pertahanan), dan ketika beralih dari serangan ke pertahanan (transisi bertahan).

Itulah 9 filosofi LVG yang saya terjemahkan sendiri dari berbagai sumber. Pun jika filosofi ini gagal memuaskan semua fans MU atau bahkan MU makin terpuruk, kita bisa ambil hikmah dan pelajaran kalau LVG adalah seorang filsuf sepakbola. Tak serta merta sepakbola diterjemahkan sebagai permainan menendang, mengumpan, mengoper, mentackle, dan berusaha menyarangkan bola ke gawang lawan untuk meraih sebuah kemenangan. Mungkin tak ada begawan sepakbola seperti LVG.

"Perlu waktu untuk membangun tim, dan itu tidak bisa dalam satu hari. Ini sebuah proses, dan proses ini telah dimulai sekarang. Semua tim saya memiliki awal yang tidak bagus. Mereka harus beralih dari cara 'insting' ke 'berpikir' dengan otak. Ini sangat sulit. Saya melatih dengan cara yang berbeda dengan Sir Alex Ferguson dan David Moyes, dan itu suli"

1 comment:


  1. AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    Bonus 10% All Games Bolavada || Bonus Cashback 10% All Games Bolavada, Kecuali Poker

    ||
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!! Registrasi Sekarang dan

    Rasakan Sensasi nya!!! ONLY ON : BOLAVADA(dot)com
    BBM : D89CC515

    bandar judi online
    agen bola terpercaya
    ayam bangkok

    https://goo.gl/lERILJ
    https://goo.gl/kbkvXv
    https://goo.gl/JB5DSD

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...